SS Lazio Permalukan Permainan Roma di Derby Olimpico

AS Roma melawan SS Lazio menjadi pertandingan yang selalu panas dan menggelora
AS Roma melawan SS Lazio menjadi pertandingan yang selalu panas dan menggelora

http://www.sportskimagazin.com – Derby della Capitale antara kesebelasan ibu kota Italia, AS Roma dan SS Lazio, berakhir dengan kemenangan untuk SS Lazio. Pada laga yang digelar Minggu (30/4) tersebut, SS Lazio yang bertindak sebagai tamu berhasil menang dengan skor 3-1.

Kedua kesebelasan bermain dengan skuat terbaiknya. Masing-masing kesebelasan hanya tak diperkuat satu pemainnya. Roma tak bisa diperkuat Alessandro Florenzi sementara SS Lazio tak bisa memainkan Federico Marchetti. Walau keduanya merupakan pemain inti, namun keduanya sudah cedera jauh sebelum laga ini, dan akan absen untuk jangka waktu yang lama.

AS Roma sendiri sebenarnya unggul penguasaan bola pada laga ini, dan cukup mendominasi jalannya pertandingan. Namun, serangan balik SS Lazio-lah yang membuat Roma ketar-ketir. Dua dari tiga gol SS Lazio tercipta lewat serangan balik.

SS Lazio tak Bermain Terbuka dari Awal Permainan

Menjalani laga ini, SS Lazio yang dilatih Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi tampak sadar betul bahwa secara kualitas individu pemain mereka kalah kelas dari Roma. Maka mereka pun tak serta merta meladeni permainan menyerang Roma dengan permainan terbuka. Walau membutuhkan kemenangan untuk menjaga posisi empat, Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi tetap menginstruksikan para pemainnya untuk berhati-hati dalam menguasai bola.

SS Lazio pada laga ini turun dengan formasi 3-5-1-1. Para pemain yang diturunkan lebih banyak pemain bertahan. Sebut saja Jordan Lukaku dan Dusan Basta, pemain yang biasanya bermain sebagai bek sayap, di kedua sayap. Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi mencadangkan Filip Djordjevic dan Felipe Anderson.

Perubahan komposisi pemain dan formasi juga dipengaruhi cederanya Ciro Immobile jelang pertandingan. Dengan penuh perjudian Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi tak banyak memainkan pemain menyerang, seperti kala mengalahkan Palermo 6-2.

Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi pun tak menginstruksikan para pemainnya berlama-lama dengan bola, tak seperti pada laga melawan Palermo dan Genoa. Saat bertahan, SS Lazio membentuk pola 5-3-1-1. Pola ini cukup mengisi celah di kedua sayap juga di tengah.

Kesulitan mendapatkan celah akhirnya membuat para pemain Roma berusaha membongkar pertahanan SS Lazio dengan aksi-aksi individunya atau dengan kecepatan. Akan tetapi SS Lazio tampaknya sudah siap dengan hal itu. Terbukti dengan total 33 tekel berhasil dari 49 percobaan, 18 intersep, dan 37 sapuan. Roma cukup kesulitan menciptakan peluang.

Di lini depan, Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi sendiri menempatkan Balde Keita sebagai penyerang tunggal dan Sergej Milinkovic-Savic di belakangnya. Pemain bernomor punggung 21 ini berguna saat SS Lazio melancarkan serangan balik melalui umpan lambung. Milinkovic-Savic sendiri berhasil memenangi 60% duel udara.

Namun, sebenarnya serangan balik SS Lazio lebih mengandalkan para pemain cepat. Karena hal ini juga Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi menempatkan Balde Keita sebagai pemain terdepan. Keita dibantu juga oleh Senad Lulic. Bahkan saat Lukaku diganti jelang turun minum, oleh Anderson, Lulic langsung ditempatkan ke sisi kiri penyerangan.

Lulic pun kemudian menjadi poros utama serangan SS Lazio. Umpan-umpan serangan balik cepat diarahkan pada gelandang asal Bosnia-Herzegovina ini. Alhasil ia mencetak dua assist, yang keduanya untuk gol Balde Keita. Kedua proses gol ini tercipta melalui serangan balik.

Dari grafis di atas terlihat, selain mengarahkan serangan ke sisi kiri, SS Lazio juga cukup menghindari area tengah lapangan. Hal ini dikarenakan Roma menempatkan ketiga gelandang mereka (Kevin Strootman, Daniele De Rossi, dan Radja Nainggolan) secara rapat di tengah. Maka tak heran pemain sayap Roma-lah yang cukup kerepotan (Roma langsung memasukkan bek kanan, Bruno Peres, usai turun minum). Apalagi sisi kanan Roma jarang dibantu oleh winger kanan mereka, Mohamed Salah.

Strategi Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi Lebih Jitu di Babak Kedua

Football - Soccer -Pertandingan klasik antara AS Roma dan Lazio yang panas dan menggelora Lazio v AS Roma - Italian Serie A - Olympic Stadium, Rome, Italy - 4/12/2016. Lazio's and AS Roma's players argue during the match. REUTERS/Alessandro Bianchi
Football – Soccer -Pertandingan klasik antara AS Roma dan Lazio yang panas dan menggelora Lazio v AS Roma – Italian Serie A – Olympic Stadium, Rome, Italy – 4/12/2016. Lazio’s and AS Roma’s players argue during the match. REUTERS/Alessandro Bianchi

Usai turun minum, pelatih Roma, Luciano Spalletti, memang langsung mengubah pola permainan mereka. Stephane El Shaarawy ditarik keluar, Bruno Peres masuk. Formasi dasar 4-3-3 di awal pertandingan ditinggalkan karena SS Lazio mengubahnya menjadi 3-4-3.

Namun skema ini ternyata tak efektif. SS Lazio justru semakin mengancam lini pertahanan Roma lewat serangan baliknya. Bahkan babak kedua baru lima menit berjalan, Dusan Basta membawa SS Lazio memimpin 2-1.

Ketinggalan 1-2 inilah yang mau tak mau harus direspons oleh Spalletti. Respons Spalletti sendiri dengan meningkatkan serangan, yaitu menggantikan Federico Fazio, seorang bek tengah, oleh Diego Perotti. Kemudian De Rossi, gelandang bertahan, digantikan Francesco Totti, gelandang serang. Roma kembali mengubah formasi dasar mereka di pertengahan babak kedua, kali ini dengan 4-2-3-1.

Serangan sayap pun kemudian dilancarkan Roma, yang sebenarnya sudah dilakukan sejak awal. Kehadiran Totti dan Perotti tujuannya agar dari tengah bisa memberikan umpan-umpan matang untuk kedua sayap. Perotti diharapkan bisa memberikan umpan silang matang untuk Edin Dzeko bersama Salah di sisi kanan.

Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi sendiri sadar bahwa lini pertahanannya akan semakin mendapatkan tekanan dari para pemain Roma. Maka yang ia lakukan adalah memasukkan Wesley Hoedt menggantikan Stevan de Vrij, bek tengah oleh bek tengah.

Pergantian ini dimaksudkan agar SS Lazio bisa meredam umpan-umpan silang Roma yang mulai digencarkan pada babak kedua. Hoedt sendiri merupakan pemain bertahan dengan rataan aerial duel tertinggi (2,6 per pertandingan), setelah Milinkovic-Savic (4,5 per pertandingan).

Selain itu, stefan De Vrij digantikan karena ia cukup bersusah payah menggalang lini pertahanan SS Lazio. Tercatat ia melakukan 11 sapuan, terbanyak pada laga ini. Sapuan-sapuannya itu yang membuat umpan-umpan silang Roma digagalkan. Karena dari 26 umpan silang Roma, hanya satu yang berhasil tepat sasaran.

Pergantian pemain bertahan juga dilakukan karena klub berjuluk serigala itu mulai lebih membahayakan dari lini serang. Dari 12 tembakan yang mereka ciptakan pada laga ini, tujuh di antaranya merupakan peluang berbahaya. Maka dari itu, penyegaran di lini pertahanan dilakukan untuk menghindari lebi banyak terjadinya peluang emas dari tim asuhan Spalleti tersebut.

Seringnya Roma melancarkan serangan ini akhirnya malah menjadi bumerang. Karena saat menyerang, Bruno Peres dan Emerson, kedua full-back, sangat aktif membantu serangan. Sementara SS Lazio yang mengandalkan serangan balik, memiliki Keita, Lulic, dan Anderson di babak kedua. Gol ketiga SS Lazio pada menit ke-85, menjadi bukti bagaimana serangan balik SS Lazio dengan baik memanfaatkan Roma yang gagal melakukan serangan, hanya menyisakan tiga pemain. Baca juga berita sepak bola lainnya di: http://megabola389.blogspot.sg/

Kesimpulan Pertandingan AS Roma vs SS Lazio

Adik dari Filipo Inzaghi, yaitu Simone Inzaghi menjalani laga ini dengan strategi yang lebih jitu walau sebenarnya ini di luar dugaan, khususnya setelah Immobile cedera. Di awal pertandingan ia memainkan banyak pemain bertahan untuk mengokohkan lini belakang. Menempatkan Balde Keita sebagai pemain terdepan untuk melancarkan serangan balik pun terbukti langsung berhasil karena Keita berhasil mencetak gol pada menit ke-12.

Gol itu membuat Roma berada dalam situasi tak nyaman. Dengan kewalahan menghadapi serangan balik, Spalletti mengubah skema pada babak kedua, yang ternyata tak efektif. Setelah kebobolan untuk kedua kalinya, Spalletti akhirnya memfokuskan anak asuhnya untuk terus menyerang, yang ternyata menimbulkan celah di lini belakang sehingga terjadinya gol ketiga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *