Arsenal Sudah Kalah Sebelum Permainan Dimulai

Harry Kane Mencetak Satu Gol dalam kemenangan Totenham Hotspurs atas Arsenal pekan lalu
Harry Kane Mencetak Satu Gol dalam kemenangan Totenham Hotspurs atas Arsenal pekan lalu

Sportskimagazin – Untuk pertama kalinya sejak 22 tahun terakhir, The Lilywhites – Julukan Tottenham HostTottenham Hotspurs dipastikan finis di atas Arsenal dalam tabel klasemen. Hasil tersebut menyusul kemenangan 2-0 yang diraih Tottenham Hotspurs atas rival sekotanya tersebut.

Sempat imbang tanpa gol pada babak pertama, tuan rumah kemudian mampu unggul lewat gol Dele Alli dan Harry Kane. Meski kompetisi belum usai, namun secara hitungan matematis, tidak akan ada St. Totteringham’s Day musim ini, yakni hari yang dirayakan oleh pendukung Arsenal jika mereka bisa berada di atas Arsenal dalam tabel klasemen.

Tiga pemain bertahan atau pemain belakang Arsene Wenger yang Gagal

Pada tiga laga sebelum ini, Arsene Wenger memakai formasi barunya dengan komposisi tiga pemain bertahan atau pemain belakang di belakang. Taktik ini bahkan baru pertama ia lakukan sepanjang kariernya menangani Arsenal. Penyebabnya adalah kekalahan memalukan yang didapat saat menghadapi Crystal Palace.

Hasilnya pun positif. The Gunners berhasil menyapu bersih semua pertandingan tersebut. Termasuk laga krusial di semi-final Piala FA melawan Manchester City.

Maka tak heran ketika menjalani laga penting lain melawan Tottenham Hotspurs, formasi dasar 3-4-2-1 kembali ia terapkan. Namun sayangnya kali ini racikannya tak berjalan semulus seperti sebelumnya. Lini tengah kalah berduel, pertahanan rapuh, dan serangan mereka kerap buntu di tengah jalan.

Apresiasi tinggi patut diberikan kepada arsitek tim Tottenham Hotspurs, Mauricio Pochettino, yang bisa membaca kelemahan taktik lawannya tersebut. Alih-alih melakukan mirroring (meniru formasi dasar lawan) yang sedang tren sekarang ini, ia justru percaya dengan taktiknya sendiri.

Hasilnya bisa kita lihat sendiri dalam pertandingan semalam. Tottenham Hotspurs mampu mendominasi jalannya pertandingan, unggul 2 gol, dan tidak kebobolan.

Perpaduan antara Pengawalan Ketat dan Pemanfaatan Garis Pertahanan

Olivier Giroud berusaha merebut bola saat Arsenal dikalahkan Tottenham Hotspurs pekan ini
Olivier Giroud berusaha merebut bola saat Arsenal dikalahkan Tottenham Hotspurs pekan ini

Status panas yang menempel pada laga derby serta betapa pentingnya laga ini bagi kedua kesebelasan di kompetisi, membuat pertandingan berlangsung menarik sejak awal. Permainan cepat dan saling menekan ditunjukkan oleh keduanya yang kemudian menghasilkan beberapa peluang berbahaya.

Kedua arsitek tim sama-sama memerintahkan anak asuhnya untuk menekan. Hal ini bahkan dilakukan sejak bola berada di pertahanan lawan. Tujuannya tentu jelas, yakni merebut bola secepat mungkin agar bisa melakukan serangan dan mencari gol cepat.

Pada situasi seperti itu, Tottenham Hotspurs berhasil menjalankan taktiknya lebih baik ketimbang Arsenal. Kuncinya ada di kecerdikan Pochettino dalam mengatur garis pertahanan. Kuartet pemain bertahan atau pemain belakang Tottenham Hotspurs bergerak lebih dinamis dalam membaca pola permainan.

Mereka tahu kapan harus naik tinggi atau turun bahkan hingga memenuhi kotak penalti sendiri. Situasi garis tinggi terjadi apabila permainan membutuhkan duel individu di tengah, sehingga Tottenham Hotspurs tak kekurangan jumlah pemain di lini kedua tersebut. Sedangkan pada saat mendapat serangan balik maka semua pemain bertahan atau pemain belakang akan memilih mundur jauh hingga ke kotak penalti.

Petrc Cech berusaha mengatur pemain belakang Arsenal saat dikalahkan oleh Tottenham Hotspurs
Petrc Cech berusaha mengatur pemain belakang Arsenal saat dikalahkan oleh Tottenham Hotspurs

Tugas para pemain bertahan atau pemain belakang Tottenham Hotspurs dipermudah dengan kemampuan penjaga gawang mereka, Hugo Lloris. Ia bisa ikut aktif dalam membangun serangan dari belakang. Sehingga tekanan yang dilakukan oleh Arsenal bisa dengan cepat diredam. Tak perlu untuk membuang ke depan sehingga mencegah kehilangan penguasaan bola.

Cara ini bukannya tanpa alasan. Karena seperti yang kita tahu, Arsenal identik dengan permainan cepat, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki Pemain asal Chile, Alexis Sanchez yang unggul dalam berlari. Tapi ini bisa juga menjadi kelemahan ketika sebenarnya mereka butuh situasi di mana harus memperlambat permainan.

Padahal ketika ada banyak pemain lawan di kotak penalti, Arsenal seharusnya bisa sedikit bersabar. Memainkan bola-bola pendek di tengah sembari mencari celah kosong untuk mengirimkan umpan terobosan atau umpan silang. Mengingat di lini depan mereka ada nama Olivier Giroud yang siap menyambutnya.

Berdasarkan data statistik, striker asal Prancis tersebut sepanjang berada di lapangan tak pernah menerima umpan di kotak penalti Tottenham Hotspurs. Lebih ironisnya lagi, hampir seluruhnya ia terima di sisi sayap. Giroud tak pernah punya waktu untuk mencari ruang di kotak penalti karena harus ikut aktif dalam membangun serangan.

Heung Min Son Memang Hebat, tapi Kerjasama Tim Tottenham Hotspurs Lebih Hebat

Son Heung-min mendapatkan banyak pujian berkat aksinya pada pertandingan kali ini. Menempati posisi winger kiri ia mampu menjadi pengatur serangan Tottenham Hotspurs. Ya, meski berada di sisi lapangan ia memang jadi pemain paling berperan penting di permainan.

Hal ini karena The Lilywhites – Julukan Tottenham HostTottenham Hotspurs memang berfokus hanya lewat sisi kiri ketika melakukan serangan. Hampir sepanjang 90 menit, sisi ini selalu jadi jalan masuk ke area sepertiga akhir. Son tentu tak sendirian dalam mengeksplorasi sisi ini. Selain dibantu full-back kiri Ben Davies, ia juga selalu dikelilingi rekannya yang siap membantu.

Formasi 4-2-3-1 yang diterapkan Tottenham Hotspurs sebenarnya juga tak imbang di antara kedua sayapnya. Praktiknya di lapangan, tiga midfielder (pemain tengah) di belakang striker tidak berdiri sejajar. Alli lebih banyak berdiri dekat Kane dan berpedan sebagai second striker. Sementara Eriksen mengisi posisi kosongnya di tengah dan sengaja meninggalkan area sayap kanan.

Cara yang mirip sebenarnya diterapkan oleh Arsenal, yakni sama-sama fokus menyerang pada sisi kiri. Namun bedanya The Gunners hanya mengandalkan Pemain asal Chile, Alexis Sanchez sendirian. Tidak ada pemain di sekelilingnya yang siap membantu.

Tugas yang mudah kemudian bagi Kieran Trippier yang sepanjang laga selalu menjadi pengawal Pemain asal Chile, Alexis Sanchez. Karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Tottenham Hotspurs tak menyerang dari sisi kanan. Sehingga ia bisa fokus hanya membantu lini pertahanan tanpa perlu naik-turun.

Mesut Oezil yang seharusnya bisa berduet dengannya dengan mengirimpan umpan-umpan justru berdiri berseberangan. midfielder (pemain tengah) asal Jerman tersebut ikut menyisir sayap tapi ada di area kanan. Hasilnya bisa ditebak, Arsenal selalu kesulitan masuk ke area sepertiga akhir.

Kesimpulan Akhir Pertandingan Arsenal dan Spurs

Arsene Wenger sudah kalah sejak pemilihan formasi dan pemain di awal. Pochettino mampu membaca kelemahan formasi tiga pemain bertahan atau pemain belakang “kemarin sore” milik lawannya tersebut.

Selain ditunjukkan dengan hasil akhir pertandingan berupa kemenangan untuk Tottenham Hotspurs, juga bisa dilihat dari permainan yang ditunjukkan. Tottenham Hotspurs jelas mendominasi dari segi apapun, mulai dari penguasaan bola hingga peluang yang diciptakan. Untuk hal ini tentu kita tak bisa membantahnya.

Namun hal lain yang menjadi bukti adalah pergantian taktik yang dilakukan Wenger hanya merespons apa yang dilakukan oleh lawannya. Dengan kata lain, taktik yang dijalankan oleh arsitek tim yang kontraknya belum diperpanjang tersebut selalu kalah langkah.

Ia memainkan taktik yang sama seperti laga-laga sebelumnya tanpa melihat keunggulan lawan. Bahkan pada pertengahan babak kedua Arsenal mengembalikan formasinya ke 4-3-3 atau menggunakan “cara lama”.

Pertandingan derby London Utara ini bisa menjadi kesimpulan banyak hal. Pertama, tentu fakta bahwa pada akhirnya Tottenham Hotspurs bisa mengakhiri musim di atas Arsenal. Lalu selanjutnya bisa jadi ini adalah akhir dari kejayaan seorang Arsene Wenger.

Jangan lupa juga bahwa sekarang Arsenal masih berada di posisi enam klasemen sementara. Mereka terancam tak bisa berlaga di Liga Champions musim depan jika tak melakukan langkah drastis sembari berharap pesaing di atasnya terjegal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

agen sbobet
bandar bola online
dewa poker
judi poker
domino online
judi online
streaming bokep